Rabu, 24 Februari 2010

Makalah Tafsir ; Ilmu dan Ulama

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Banyak hadists rasul dan ayat-ayat quran yg menjelaskan tentang ilmu dan kedudukan ulama di sisi Allah dan  manusia, di dunia maupun di akhirat, para ulama di angkat derajatnya keposisi yg tinggi, kita tidak bisa menuju kesana dengan jalan kaki, ataupun terbang kesana dengan sayap melainkan dengan ilmulah kita mampu menuju ke tempat yg tinggi itu .
Rasul bersabda :
1.      "Barang siapa yg menginginkan kebaikan dari Allah maka pahamilah ilmu Agama",
2.      "Barang siapa yg menempuh jalan untuk mencari ilmu, mak Allah akan memudahkannya jalan menuju surga ",
3.      "Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya untuk para pencari ilmu  dengan ridlo berkat apa yang lakukan , dan orang-orang berilmu akan selalu dimintakan ampunan oleh makhluk-makhluk yang ada di langit dan di bumi, sampai ikan-ikan di lautpun untuk memintakkan ampunan untuknya, keutamaan orang yang berilmu di bandingkan dengan orang yang bodoh seperti keutamaan rembulan di tengah-tengah gemerlapnya bintang-bintang ",
4.      "Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi, Beliaw tidak mewariskan dinar ataupun dirham melainkan ilmu, maka barangsiapa yang mau mengambilnya, dialah orang yang mendapat keberuntungan yang besar".

Mu'ad bin Jabal pernah berkata :
"Sebaik-baik majlis adalah yang terbesar hikmah didalamnya, dan tersebar RahmatNya, dialah majlis ta'lim".

Hasan pernah berkata :
"Seandainya tidak ada ulama', maka manusia itu seperti binatang saja", maksudnya para ulama adalah orang yang berilmu, mereka mampu mengeluarkan manusia dari posisi binatang ke posisi manusia".


Imam Ahmad bin Hambalpun pernah berkata:
"Kebutuhan manusia kepada ilmu itu lebih besar daripada kebutuhan mereka terhadap makanan ataupun minuman".[1]

B.     Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dapat kita ungkapkan dalam pembahasan ini  adalah sebagai berikut :
1.      pengertian ilmu dan ulama
2.      sumber-sumber pengetahun
3.      tips memperoleh ilmu
4.      tanggungjawab seorang ilmuwan

C.     Tujuan dan Manfaat Pembahasan
Pengetahuan terhadap ilmu dan siapa itu ulama akan memberikan daya tarik tersendiri kepada para pencinta dan penuntut ilmu didalam penguasaan disiplin-disiplin ilmu yang ada bahkan akan memberikan nilai tambah baik berupa pemahaman maupun kearifan serta bagaimana memposisikan diri terhadap ilmu itu sendiri. Salah satu contoh, ilmu apa saja yang mesti kita pelajari dan itu bermanfa'at, bagaimana cara yang tepat didalam penguasaan sebuah ilmu, serta tanggungjawab tiap-tiap individu ulama (yang berilmu) dengan ilmunya.
Manfaat yang dapat diambil adalah sebuah kesungguh-sungguhan dan keseriusan terhadap disiplin ilmu yang akan dan telah dipelajari. Sebagai  bekal hidup di dunia maupun di akhirat, dan yang sederhananya adalah orang yang berilmu akan beda dengan mereka yang tidak berilmu, orang yang tidak berilmu diibaratkan seperti binatang dalam sebuah pepatah arab dikatakan ;
لولا العلم لكان الناس كالبهائم
"kalau bukan karena ilmu, niscaya manusia itu seperti binatang"     


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Ilmu dan Ulama
Al-Ilmu secara bahasa adalah lawan dari Al-Jahlu (kebodohan), yaitu mengetahui sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dengan pengetahuan yang pasti.
Ilmu ialah memindahkan gambaran yang diketahui dari kenyataan alam luar kemudian ditetapkannya (dimasukkan hingga tetap) ke dalam diri.[2]

Secara Istilah adalah dijelaskan oleh sebagian ulama bahwa ilmu adalah ma'rifat (pengetahuan). Menurut ulama yang lainnya ilmu itu lebih jelas daripada yang diketahui.
Ulama' secara bahasa adalah bentuk jama' dari 'Aalim. 'Aalim merupakan isim fa'il dari ilmu. Kata dasar :"ilmu". Jadi Alim merupakan orang yang berilmu. Dan ulama adalah orang-orang yang berilmu.
Dalam Kitab Shahih Bukhori dikatakan bahwa :
.... وَأَنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ....
"sesungguhnya ulama' itu adalah pewaris para Nabi" (Shahih Bukhori dalam Maktabah Syamilah)
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ  
" sesungguhnya orang yang takut kepada Allah SWT adalah hamba-hambaNya dari golongan ulama" (Akhlaaqul 'Ulamaa Lil-Imam Abi Bakrin Al-Ajurriy dalam Maktabah Syamilah)

قَالَ الذين أُوتُواْ العلم ، قيل : هم العلماء
"merekalah orang-orang yang diberi ilmu, (dikatakan siapa mereka?) mereka adalah ulama" (Fathul Qodir Lil-Imam Asy-Syaukani, Maktabah Syamilah)

B.     Sumber-Sumber Pengetahuan[3]
Setelah kita mengetahui betapa tinggi perhatian islam terhadap ilmu pengetahuan dan betapa Allah SWT mewajibkan kepada kaum muslimin untuk belajar dan terus belajar. Sebagai urutan sumber pengetahuan yang benar adalah :
1.      Alqur'an dan Sunnah
      Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya  untuk menjadikan Alqur'an dan Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan keduannya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan langsung dibawah pengawasannya, sehingga terjaga dari kesalahan.
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَّعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ ( يوسف : 2)[4]
       "sesungguhnya Kami yang menurunkan alqur'an itu dengan berbahasa arab agar kamu sekalian memahaminya"
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ( الأحزاب : 21)
            " Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

2.      Alam Semesta
Allah telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لِّأُوْلِي الألْبَابِ
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya."
Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang mesti kita perhatikan berkaitan dengan kejadian alam, karena sebenarnya alam ini bisa kita jadikan sumber pengetahuan.
3.      Diri Manusia
Allah SWT menyuruh kepada manusia agar memperhatikan tentang proses penciptaannya, baik secara fisik QS : 86/5 maupun secara psikologis/jiwa QS : 91/7-10. dan lain-lain.
فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ مِمَّ خُلِقَ ( الطارق:5)
            " Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?" (QS Aththoriq : 5)

4.      Sejarah
Allah memerintahkan untuk melihat kebenaran wahyuNya melalui lembar sejarah QS :12/111,
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُوْلِي الأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَـكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلَّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (يوسف : 111)
" Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman".(QS: Yusuf : 111)

jika masih ragu akan datang kebenaran wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nabi Nuh, Nabi Luth, Nabi Hud, Nabi Shalih, fir'aun dan sebagainya.

C.  Tips Menuntut Ilmu[5]
Menuntut ilmu, wajib hukumnya dalam islam. Baik pria maupun wanita memiliki kewajiban yang sama untuk mengasah akalnya.
  1. Niat Ketika Belajar
Pada saat mempelajari suatu ilmu wajib mempunyai niat. Niat adalah kunci dari segala amal, sebagaimana sabda nabi dalam hadits shahih: "Sesungguhnya sahnya amal bergantung pada nistnya."
Ketika menuntut ilmu berniatlah mencari ridlo Allah ta'ala, mengharap kebahagiaan di akhirat, menghilangkan ketidaktahuan yang ada pada dirinya dan orang lain, menghilangkan ketidaktahuan yang ada pada dirinya dan orang lain, menghidupkan agama, melestarikan islam karena keabadian islam adalah dengan ilmu. Tidak akan mendapatkan kebenaran dalam zuhud dan takwa kecuali dengan mengetahui ilmunya.
Hendaklah dalam menuntut ilmu diniatkan untuk mensyukuri nikmat akal dan kesehatan badan, dan tidak diniatkan untuk mencari muka dihadapan manusia, mencari kenikmatan dunia atau untuk mencari kedudukan dihadapan penguasa.

2.      Kesungguhan, Tidak Putus Asa Dan Bercita-Cita Mulia
Dalam menuntut ilmu haruslah sungguh-sungguh, dan tidak pernah terhenti. Allah mengisyaratkan hal ini dalam firman-Nya: "dan orang-orang yang berjuang di jalan kami pastilah akan kami tunjukkan kepada mereka jalan kami."
Artinya, siapa yang punya cita-cita dan ia sungguh-sungguh dalam berusaha mendapatkannya maka pasti akan ia dapatkan, siapapun yang terus menerus mengetuk pintu untuk mencapai yang dicita-citakan maka pasti akan terbuka. Apapun yang kamu inginkan bergantung dari seberapa besar keinginanmu itu.
Tetapi dalam usaha mencapai kesempurnaan menuntut ilmu maka akan lebih sempurna bila didukung oleh kesunguhan tiga elemen yang sangat menentukan dalam mencapai kesempurnaan ilmu. Tiga elemen tersebut adalah murid itu sendiri, guru, dan orang tua jika masih hidup.
Hendaklah dalam menuntut ilmu tak putus asa dan selalu menela'ah ulang pelajaran yang telah lewat.



3.      Langkah Awal, Ukuran Dan Tata Cara Belajar
a.       Tahap Awal Belajar
            Pelajaran yang diberikan adalah pelajaran yang diperkirakan mampu dikuasai dalam dua kali pertemuan. Kemudian pada hari berikutnya ditambah dengan kalimat demi kalimat, sehingga apabila telah banyak yang ia dapatkan maka ia tetap mampu menguasai hanya dengan dua kali pengulangan. Begitulah terus ditambahkan tahap demi tahap. Adapun bila pada pelajaran pertama langsung diberikan pelajaran yang banyak, sehingga butuh sepuluh kali untuk menerangkannya, maka sampai pelajaran terakhir akan tetap demikian dan akan menjadi kebiasaan yang sulit dihapuskan kecuali dengan usaha yang lebih berat lagi. Kemudian hendaklah dicatat pelajaran yang kemudian ditelaah ulang untuk dikuasai. Ini sangat bermanfaat sekali. Tetapi jangan pernah mencatat pelajaran yang belum atau tidak dimengerti karena hanya membuat letih, menghilangkan kecerdasan dan membuang waktu. Selalu berusaha memahami apa yang dijelaskan oleh guru atau menganalisanya kembali. Apabila tidak faham dengan satu pelajaran dan didiamkan saja atau tidak berusaha untuk memahaminya maka akan menjadi kebiasaan, membuat lemah dalam memahami sesuatu yang sebenarnya mudah.
Kesungguhan harus diiringi dengan do'a kepada Allah dengan penuh harap
b.      Bermusyawarah
Sesama pelajar haruslah bertukar fikiran, saling berdiskusi, dan selalu memecahkan masalah secara bersama dengan penuh kesadaran dan pendalaman. Musyawarah tidak bisa dilakukan dengan emosi dan dalam suasana yang gaduh. Hindari bermusyawarah dengan orang yang suka keributan dan kegaduhan, karena hal itu merupakan tabiat yang tidak baik. 
c.       Berfikir dan Berbicara Yang Tepat.
Dalam setiap waktu berusahalah untuk mengadakan pengamatan pada ilmu-ilmu yang sulit hingga menjadi kebiasaan rutin. Ilmu yang sulit hanya bisa dikaji secara mendalam. Ketika hendak bicara harap difikirkan terlebih dahulu. Perkataan itu ibarat anak panah, maka sudah seharusnya kita selalu meluruskan pembicaraan agar sesuai dengan apa yang dimaksudkan.

d.      Bersyukur dan Tidak Tama' Harta
Seseorang yang berbadan sehat dan normal pikirannya maka tidak ada alasan untuk tidak menuntut ilmu. Apabila berharta banyak, maka alangkah nikmat bila kekayaan itu dimiliki oleh orang yang shalih
     
Dari beberapa ungkapan para ulama jaman dahulu ada satu pesan yang diperuntukkan kepada siapa saja yang sedang menuntut ilmu. Ungkapan atau nasehat tersebut bunyinya :
أخي لن تنال العلم إلا بستّة .سأنبيك عن تفصيلها ببيان : ذكاء، وحرص ، واجتهاد ، ودرهم ، وصحبة أستاذ ، و طول زمان.
     
" Wahai Saudaraku ! engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, saya akan menyampaikannya satu persatu dengan jelas : kecerdasan, ketamakan dalam ilmu, kesungguhan, ada dana(uang), bergaul dengan guru (ada timbal balik dengan guru) dan butuh waktu (berproses)."


D.  Tanggungjawab seorang ilmuwan[6]
           
            Ilmu pengetahuan membawa berkah dan nilai kemakmuran bagi manusia tanpa  meninggalkan tata nilai, etika, moral dan filosofi. Seorang ilmuwan memiliki kemampuan bertindak persuatif dan argumentative berdasarkan pengetahuan yang dimiliki. Kemampuan analisis dan sintesis untuk mengubah kegiatan nonproduktif menjadi produktif.
      Seorang ilmuwan bertanggungjawab untuk :
  1. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (berfikir, melakukan penelitian dan pengembangan, menumbuhkan sikap positif konstruktif, meningkatkan nilai tambah dan produktivitas, konsisten dengan proses penelaahan keilmuan, menguasai bidang kajian ilmu secara mendalam, mengkaji perkembangan teknologi sacara rinci, bersifat terbuka, professional dan mempublikasikan temuannya.
  2. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan menemukan masalah yang sudah/akan mempengaruhi kehidupan masyarakat dan mengkomunikasikannya, menemukan pemecahan masalah yang dihadapi masyarakat, membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, menggunakan hasil penemuan untuk kepentingan manusia, mengungkapkan kebenaran dengan segala konsekwensinya, mengembangkan kebudayaan nasional.


  
 
























BAB III
KESIMPULAN

   Ilmu ialah memindahkan gambaran yang diketahui dari kenyataan alam luar kemudian ditetapkannya (dimasukkan hingga tetap) ke dalam diri. Atau disebut juga ma'rifat (pengetahuan)
Alim merupakan orang yang berilmu. Dan ulama adalah orang-orang yang berilmu.
Sumber-Sumber Pengetahuan ; alqur'an dan sunnah, alam semesta diri manusia dan sejarah.
Sementara tips menuntut ilmu adalah ; niat ketika belajar, kesungguhan, tidak putus asa dan bercita-cita mulia,
Langkah Awal, Ukuran Dan Tata Cara Belajar ; tahap awal belajar, bermusyawarah, berfikir dan berbicara yang tepat. bersyukur dan tidak tama' harta
Dan masih banyak lagi tanggungjawab seorang ilmuwan kepada masyarakat ataupun diidalam kehidupan ini.


















DAFTAR PUSTAKA

http://www.bengkelrohani.com/article.php sumber : Buku "Kiat Sukses Dalam Menuntut Ilmu" diakses tanggal 6 November 2009
http://www.ustadz.abuhaidar.web.id diakses tanggal 6 November 2009
http://www.arsiparmansyah.wordpress.com diakses tanggal 6 November 2009
http://alsunnah.com. Akhlaaqul 'Ulamaa Lil-Imam Abi Bakrin Al-Ajurriy, Maktabah Syamilah
http://al-islam.com.  Shahih Bukhori, Maktabah Syamilah
http://altafsir.com  Fathul Qodir Lil-Imam Asy-Syaukani, Maktabah Syamilah
Mausu'ah el-Quran el-Karim Lil-Ishdar el-Tsani


[1] www.velafa.blogspot.com
[2] www.definisi.net/story.php
[4]  Mausu'ah el-Quran el-Karim Lil-Ishdar el-Tsani
[5]  www.bengkelrohani.com/article.php

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar